Menjaga Marwah Tradisi di Tanah Borneo: Profil Mendalam Paguyuban Seni Tari Kuda Lumping Putro Mudho Budoyo



LOA JANAN, KUTAI KARTANEGARA – Di tengah deru mesin industri dan hiruk-pikuk aktivitas ekonomi di sepanjang Sungai Mahakam, terdapat sebuah oase budaya yang tetap terjaga kemurniannya. Tepatnya di Gang Jawa, Jalan Sei Pimping, Desa Loa Duri Seberang, sebuah denyut tradisi terus berdetak kencang melalui Paguyuban Seni Tari Kuda Lumping Putro Mudho Budoyo.

​Paguyuban ini bukan sekadar kelompok penari; ia adalah simbol ketahanan budaya, wadah kreativitas pemuda, dan pemersatu sosial bagi masyarakat di Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Kehadiran paguyuban ini menjadi bukti nyata bahwa jarak ribuan kilometer dari tanah asal kesenian ini tidak menyurutkan semangat untuk melestarikan jati diri bangsa

Putro Mudho Budoyo di Loa Duri Seberang (Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara) adalah sebuah kelompok paguyuban kesenian tradisional yang baru saja diresmikan pembentukannya pada akhir tahun 2024.

Pembentukan Kelompok ini dibentuk secara resmi dalam acara yang diselenggarakan di Kantor Desa Persiapan Loa Duri Seberang pada Jumat, 22 November 2024. Adapun secara administratif, Surat Keputusan (SK) penetapannya diterbitkan pada tanggal 4 Desember 2024."

​1. Akar Filosofis: "Generasi Muda, Penjaga Budaya"

​Nama Putro Mudho Budoyo membawa beban filosofis yang mulia dan visioner. Secara etimologi Jawa:

  • Putro (Putra): Melambangkan garis keturunan dan regenerasi. Ini adalah komitmen bahwa ilmu seni ini harus diwariskan dari ayah ke anak, dari senior ke junior.
  • Mudho (Muda): Menitikberatkan pada energi masa muda. Paguyuban ini menjadi benteng bagi pemuda Loa Duri Seberang agar terhindar dari jeratan pergaulan negatif dengan menyibukkan diri dalam kedisiplinan gerak tari.
  • Budoyo (Budaya): Sebuah penegasan bahwa identitas bangsa adalah harta yang paling berharga. Budaya adalah ruh yang membuat masyarakat memiliki karakter dan kehormatan.

​Gabungan kata ini mencerminkan misi utama paguyuban: Regenerasi. Di tengah gempuran budaya populer dan digitalisasi, Putro Mudho Budoyo berkomitmen memastikan bahwa seni Kuda Lumping (atau Jaranan) tidak hanya menjadi kenangan bagi generasi tua, melainkan menjadi kebanggaan di tangan para pemuda Gang Jawa. Di sini, setiap anggota diajarkan bahwa menjadi "modern" tidak berarti harus meninggalkan akar leluhur.

Di bawah bimbingan dan binaan Mas Gilang Abidin Saputra, paguyuban ini secara sadar menempatkan pemuda sebagai aktor utama. Mas Gilang Abidin Saputra memahami bahwa seni tradisi akan mati jika hanya menjadi milik orang tua. Oleh karena itu, di Gang Jawa ini, regenerasi dilakukan dengan cara yang inklusif. Para pemuda diajak untuk mencintai ritme kendang dan gerakan kuda kepang, mengubah persepsi bahwa seni tradisional itu kuno menjadi sebuah kebanggaan identitas.

​2. Geografi Budaya: Harmoni di Jalan Sei Pimping

​Keberadaan paguyuban ini di Gang Jawa Jalan Sei Pimping RT. 17 Desa Loa Duri Sebrang Kecamatan Loa Janan Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur memiliki makna simbolis yang kuat. Meski secara administratif berada di Kalimantan Timur, semangat pelestarian budaya Jawa yang mereka bawa mampu berakulturasi dengan sangat harmonis di tanah Kutai.

​Masyarakat sekitar Jalan Sei Pimping, yang terdiri dari berbagai latar belakang suku, telah menjadikan paguyuban ini sebagai perekat sosial. Setiap kali latihan rutin atau pementasan digelar, batas-batas primordial seolah luntur. Warga bahu-membahu menyiapkan panggung, konsumsi, hingga pengamanan secara swadaya. Ini adalah bukti nyata bahwa seni mampu menjadi jembatan perdamaian dan kerukunan antarwarga.

Jalan Sei Pimping kini tidak hanya dikenal sebagai jalur pemukiman, tetapi juga sebagai "rumah" bagi suara kendang yang ritmis dan sabetan pecut yang menggelegar setiap kali latihan rutin digelar.

​3. Anatomi Pertunjukan: Estetika, Disiplin, dan Magis

Pementasan kuda lumping dari ​paguyuban seni tari kuda lumping Putro Mudho Budoyo dikenal karena detail artistiknya yang tinggi. Sebuah pertunjukan biasanya terdiri dari beberapa elemen krusial:

  • Tari Prajurit (Kuda Kepang): Menggambarkan ketangkasan pasukan berkuda dalam kancah peperangan. Gerakannya tegas, sinkron, dan penuh energi, melambangkan semangat juang dan kedisiplinan.
  • Iringan Gamelan Dinamis: Perpaduan instrumen saron, gong, kendang, dan selompret menciptakan atmosfer yang mendebarkan. Irama musik diatur sedemikian rupa; mulai dari tempo lambat yang meditatif hingga akselerasi cepat yang memacu adrenalin penonton.
  • Atraksi Pecut (Cemeti): Suara dentuman pecut yang dimainkan oleh para penari bukan sekadar pelengkap, melainkan simbol kekuatan untuk mengusir energi negatif dan membangkitkan kesadaran
  • Kostum dan Tata Rias: Penggunaan warna-warna berani seperti merah, kuning, dan hitam, dipadukan dengan atribut tradisional seperti sampur (selendang) dan udeng (ikat kepala), menciptakan estetika visual yang ikonik di atas panggung.
  • Sisi Spiritual: Sebagai seni yang lahir dari tradisi kerakyatan, elemen metafisika yang terkendali seringkali menjadi bumbu yang menambah kekhidmatan pertunjukan, menunjukkan kedekatan manusia dengan alam dan penciptanya.

​4. Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Desa

​Paguyuban Putro Mudho Budoyo memberikan kontribusi nyata bagi ekosistem Desa Loa Duri Seberang:

  1. Pembentukan Karakter Pemuda: Remaja yang bergabung diajarkan nilai-nilai luhur seperti unggah-ungguh (tata krama), kerja keras, dan tanggung jawab. Ini menjadi benteng positif terhadap pengaruh negatif pergaulan bebas atau penyalahgunaan narkoba.
  2. Penggerak Ekonomi Lokal: Setiap kali pementasan berlangsung, ekonomi mikro di sekitar lokasi bergerak. Pedagang makanan, penyedia jasa parkir, hingga pelaku UMKM lokal mendapatkan berkah ekonomi dari kerumunan massa yang hadir.
  3. Identitas Wilayah: Berkat kiprahnya, Gang Jawa di Jalan Sei Pimping semakin dikenal sebagai "kantong budaya" yang aktif, yang secara tidak langsung meningkatkan profil Desa Loa Duri Seberang di mata pemerintah daerah.

​5. Tantangan dan Harapan di Masa Depan

​Menjaga eksistensi sebuah paguyuban seni di era sekarang bukanlah tanpa hambatan. Kebutuhan akan peremajaan alat musik gamelan, pemeliharaan kostum yang mulai usang, hingga biaya operasional latihan merupakan tantangan finansial yang nyata.

​Namun, semangat para pengurus dan anggota Putro Mudho Budoyo tidak pernah padam. Mereka mulai memanfaatkan media sosial untuk mendokumentasikan setiap aksi panggung, menarik minat audiens milenial dan Gen Z, serta membuka kolaborasi dengan berbagai pihak. 

​Penutup

Paguyuban Seni Tari Kuda Lumping Putro Mudho Budoyo adalah permata budaya di Kabupaten Kutai Kartanegara. Dari sebuah gang kecil di Jalan Sei Pimping, mereka mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru Nusantara: bahwa jati diri sebuah bangsa tidak diukur dari kecanggihan teknologinya, melainkan dari seberapa hormat masyarakatnya terhadap akar budaya yang membentuk mereka.

Menjalankan sebuah paguyuban di era digital memerlukan keteguhan hati. Kebutuhan akan peremajaan kostum, perawatan instrumen gamelan, hingga penyediaan ruang latihan yang layak di Gang Jawa adalah tantangan yang terus dihadapi secara swadaya.

​Namun, dengan semangat "Manunggal Ing Budoyo" (Bersatu dalam Budaya), para pengurus dan anggota Putro Mudho Budoyo tetap optimis. Mereka berharap dukungan dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan sektor swasta dapat terus mengalir, agar warisan di tepian Sungai Pimping ini tidak pernah padam.

​Bagi siapapun yang melintas di Loa Janan, sempatkanlah singgah dan menyaksikan derap langkah kuda kepang Putro Mudho Budoyo—sebuah tarian yang menyatukan hati, tradisi, dan masa depan

​"Seni Kuda Lumping adalah cermin keberanian. Selama pecut masih berbunyi di Loa Duri Seberang, maka selama itu pula jati diri kita tetap terjaga."


Follow Sosial Media PMB :

Tiktok : @putromudhobudoyo_offc

Instagram : @putromudhobudoyo_

YouTube : Putro Mudho Budoyo Lds

Kontak Admin : 085860806178/085705901634

Komentar